Suatu hari di kelas, saat uji praktik aku meminta kesediaan murid
yang siap untuk maju. Lalu majulah seorang murid maju melakukan uji
praktik. Ia berhasil dengan baik dengan nilai hampir sempurna.
Teman-teman sekelas ada yang memberi tepuk tangan sekadarnya. Yang lain
sibuk melatih diri agar tidak lakukan kesalahan saat di depan. Yang lain
mengobrol, entah apa yang dibicarakan. Sengaja aku tidak mengingatkan.
Lalu aku kembali menawarkan lagi kepada murid-muridku untuk maju. Tidak
ada yang maju. Aku hanya menunggu karena aku memang berniat demikian.
Aku ingin melihat respon dan kesiapan murid-
Hampir 62 tahun, bangsa yang besar ini mulai
merangkak, dan hendak mencoba berlari. Kenyataan pedih yang menghadang
langkah tak membuat bangsa ini berhenti dan mengeluh. Fenomena sosial
politik silih berganti meniupkan ruh kehidupan berbangsa yang dinamis.
Kebhinekaan budaya dan latar belakang-serta kepentingan- membuat jalinan
yang harusnya jauh lebih kukuh, menjadi terkesan rapuh. Bukan perekat
yang bermasalah, namun si penyusun yang enggan untuk merelakan batasan
bernama “egoisme pribadi/kelompok” untuk menerima perekat itu menyatukan
mereka. Anugerah alam yang melimpah di seluruh pelosok negeri hanya
menjadi cerita penenang tidur, sampai si anak negeri terbangun di
kemudian hari dan menyadari akan ketertinggalan yang semakin hari
semakin jauh.




